….untitled.. ( EN ) – Outline SQ#1

Aku sangat membenci perceraian. Bagiku tak ada alasan apapun yang bisa membenarkannya. Dikira perkawinan seperti sebuah permainan apa? Yang bisa dihentikan kapan saja walau belum selesai hanya karena alasan jenuh atau bosan? Karena sudah capek, sudah tidak cocok dan sudah tidak jodoh lagi. Lalu apa saja yang dilakukan sebelum memutuskan untuk menikah dulu? Apa saja yang jadi pertimbangan? Apa hanya karena keinginan sesaat, atau kepentingan sesaat? Lalu ketika keinginan dan kepentingan itu sudah habis masa berlakunya, tinggal mengakhiri saja sebuah janji yang dulu diikrarkan di depan sang Maha Hidup. Bercerai, berpisah, bukan siapa-siapa saya lagi, hanya menjaga silahturahmi demi anak yang sudah terlanjur lahir. Bahkan ada yang akhirnya tidak berhubungan sama sekali lagi. Berpisah dalam dendam benci berkarat. Memutuskan untuk melupakan selamanya, seperti tak pernah kenal sebelumnya. Sungguh heran, entah kemana cinta yang katanya dulu menyatukan cinta mereka. Entah kemana rasa sayang dan rasa-rasa lain yang dulu membuat mereka memutuskan untuk mempatenkan hubungan mereka dalam sebuah pernikahan. Lalu begitu saja mereka memutuskan berpisah, bercerai, lalu menikah lagi dengan pasangan masing-masing yang dulunya entah siapa.
Bercerai tanpa memikirkan efek samping..oh bukan..bukan efek samping tapi efek utama pada anak yang dulu kata mereka adalah buah cinta. Anak yang sudah ada di dunia ini melalui sperma dan sel telur mereka, yang terlahir dari rahim perempuannya. Yang pernah begitu diharapkan kelahirannya, yang selalu dibelai sayang, yang selalu dibanggakan sebagai buah cinta suci.
Apa yang mereka pikirkan ketika memutuskan untuk bercerai? Menganggap bahwa anak pasti akan mengerti keadaan dan pasti bisa menerima. Menganggap bahwa anak akan tumbuh dewasa dan akan mengerti keadaan yang sebenarnya. Menganggap bahwa keadaan akan kembali baik-baik saja. Tidak akan menjadi masalah besar bagi anak-anak dengan orangtua yang hidup terpisah. Tidak akan menjadi masalah besar bagi anak-anak jika orangtua akan memiliki keluarga baru masing-masing lagi. Tidak akan ada masalah. Anak akan bahagia sebahagia orangtua yang kemudian bahagia dengan pasangan baru masing-masing? Omong kosong! Anak mana yang bisa bahagia melihat orangtuanya bercerai? Anak mana yang bisa menjalani hidup normal dengan orangtua yang bercerai lalu menikah dengan entah siapa? Kalau ada kenalkan aku satu, agar aku bisa belajar padanya.
Aku benci perceraian. Ayah ibuku bercerai ketika usiaku masih hampir tujuh belas tahun. Sebuah kado yang menuntut kedewasaan di jelang ulang tahunku yang ketujuh belas. Beliau-beliau itu memutuskan untuk bercerai dengan alasan sudah tidak cocok lagi, sudah tidak jodoh lagi. Sebelum akhirnya tak genap setengah tahun kemudian keduanya menikah dengan pasangan masing-masing. Hidup bahagia. Dan aku terlempar, tersisih, terbuang.
Dan sepuluh tahun kemudian aku pun resmi menjadi perempuan bangsat yang sedikit gila dan (dicurigai) mengidap gejala psikopat dan kepribadian ganda. Setidaknya begitulah yang aku rasakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s