Embrio Novel

…untitled..(EN) – SQ#2

Oke, sepintas aku memang tampak seperti perempuan biasa dengan latar belakang kehidupan yang normal lainnya. Lajang berusia dua puluh tujuh tahun, punya pekerjaan bagus di sebuah perusahaan bagus. Punya tabungan yang cukup untuk hidupku bahkan tigapuluh tahun ke depan walaupun aku tidak bekerja. Tabungan dan warisan dari nenekku yang sudah tiada beberapa tahun silam lebih dari cukup kalau hanya untuk biaya hidup.
Setelah ayah ibuku resmi bercerai, karena usiaku sudah dianggap cukup umur untuk menentukan sendiri dengan siapa aku tinggal, aku memilih untuk tidak tinggal dengan salah satu dari antara mereka. Terus terang waktu itu aku benci dengan orangtuaku yang tiba-tiba berubah menjadi seperti orang lain yang tidak aku kenal. Karena itulah aku memutuskan untuk tinggal dengan nenekku, orangtua ibuku yang kebetulan memang tinggal di Jakarta. Orangtua ayahku tinggal di Surabaya, dan waktu itu keduanya sudah meninggal. Ayahku anak tunggal, sedang ibuku anak bungsu dari dua bersaudara, kakak perempuannya Tante Mitha tinggal di Australia ikut tugas dengan suaminya.
Setelah menikah, ibuku juga ikut pindah ke Singapura mengikuti suami barunya. Ayahku yang tadinya bekerja di Jakarta ikutan latah pindah tugas ke Surabaya, tentu saja dia membawa istri barunya serta. Waktu itu aku merasa mereka sengaja meninggalkan Jakarta dan meninggalkan aku. Untuk melupakan aku, untuk menganggap aku tidak pernah ada. Aku hanyalah sebuah kesalahan buat mereka, sebuah kekhilafan yang tak bisa diperbaiki, kehadiranku hanya seperti perusak di tengah indahnya rumah tangga baru mereka masing-masing. Andai saja waktu bisa diputar kembali, mereka pasti akan memperbaiki kesalahan yaitu tidak membiarkan aku ada. Aku hanya pengganggu, mimpi buruk, wujud nyata, prasasti atau monumen kesalahan langkah hidup mereka di masa lalu. Sial! Tak salah kan kalau pada akhirnya aku sangat membenci keduanya dan membiarkan saja mereka pergi menjalani hidup masing-masing. Ayah yang memelukku erat sambil menangis waktu mereka akan berangkat ke Surabaya kuanggap tak lebih dari sebuah akting untuk menunjukkan pada dunia bahwa dia memang seorang ayah yang tak sanggup hidup terpisah jauh dari anak perempuannya. Ibu yang memaksaku ikut pindah dengannya ke Singapura kuanggap hanya sedang berbasa-basi dan mengajakku ikut karena sudah tau aku tak akan mau ikut dengannya. Heggghhh…bagaimana mungkin aku bisa hidup bersama laki-laki yang adalah suami ibuku yang kuanggap sebagai salah satu penyebab terjadinya perceraian sial itu?
Kuputuskan hidup bersama nenekku yang waktu itu masih sehat dan kuat.
Nah, kau kira akhirnya aku hidup bahagia dengan nenekku? Kau benar, tapi itu hanya sebentar. Waktu usiaku hampir duapuluh tahun, nenekku tercinta meninggal. Akupun melayang, seperti layang-layang putus. Terbang melayang tanpa arah tanpa kendali, terseok kesana kemari ditiup angin lalu tersangkut di tiang listrik.
Ibuku waktu itu pulang bersama suami dan anak laki-lakinya yang sedang lucu-clunya yang tak sudi aku menganggapnya adik. Ketika hendak kembali ke Singapura, ibu kembali membujukku untuk ikut. Tapi memandang wajahnya pun aku tak mau, kubiarkan ibu menangis waktu itu. Lalu aku pergi dan kembali ke rumah nenek setelah kupastikan mereka sudah kembali ke Singapura.
Ayah hanya datang sebentar waktu pemakaman nenek. Ditanya kabarku aku diam saja membuang muka. Dibujuknya aku ikut ke Surabaya memandang wajahnya pun aku tak mau. Istri barunya yang belum memberinya anak itu ikut-ikutan membujukku ikut mereka ke Surabaya. Aku tak berkata sepatah katapun, memandang wajah ayahpun pun aku tak mau. Aku terlanjur sakit hati, sakit hatiku permanen, hatiku beku. Hanya ada benci buat mereka. Hanya benci. Tak ada lagi yang tersisa selain itu.
Aku keterlaluan? Oke, tak apa jika kau menganggap seperti itu. Segalanya memang akan tampak lebih mudah dan sederhana jika kau tidak benar-benar mengalaminya.

Aku sadar betul bahwa hidup dalam kebencian perlahan-lahan bisa membuat gila, sinting dan senget. Akibat langsung dari kebencian adalah penderitaan. Memang efeknya tidak langsung terasa seperti makan cabe rawit yang langsung terasa pedas.
Prosesnya seperti ini. Pada saat kau sudah berhasil membenci seseorang dengan sukses, diam-diam pasti ada sedikit kebanggaan di hatimu karena sudah berhasil membenci. Membenci berarti tidak mencintai bukan? Tidak mencintai berarti kau tidak bergantung, tidak mencintai berarti tak ada dia tak ada dia tak masalah. Bahkan tak ada dia akan lebih baik. Tapi efek jangka panjang dari membenci adalah penderitaan. Dipastikan bahwa pelan-pelan kau pasti akan menderita jika menyimpan kebencian pada seseorang. Penderitaan yang terdiri dari unsur-unsur rasa tidak nyaman yang berjenis-jenis. Jika dipelihara dengan baik, kebencian memang bisa bermetamorfosis menjadi rasa tidak perduli. Rasa tidak perduli adalah puncak dari kebencian menahun. Rasa tidak perduli adalah sebuah kesuksesan dan kemerdekaan bagi orang yang membenci. Ketika kau sudah tidak perduli lagi pada seseorang, maka kau sudah terbebas benar dari orang itu. Tak akan ada lagi penderitaan yang berhubungan langsung dengannya. Tapi ingat masih banyak penderitaan eksternal lain yang timbul karenanya.
Aku ingin sekali tidak lagi perduli dengan orangtuaku. Ingin sekali naik kelas dari rasa benci ke rasa tidak perduli, tapi aku selalu tinggal kelas. Entah karena faktor internal dan eksternal apa, rasa benci itu tetap menjadi rasa benci. Tak juga berubah menjadi rasa tidak perduli yang kudambakan.

Advertisements

One thought on “…untitled..(EN) – SQ#2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s