Cerpen · LaporanKhusus

Kereta Pagi Menuju Den Haag

Kereta Pagi Menuju Den Haag, buku ini adalah sebuah kumpulan cerpen karangan Rilda Aprisanti Oelangan Taneko – teman satu fakultas saya yang pernah tinggal di Belanda dan sekarang tinggal di Inggris bersama suami dan Ilham – putra mereka. Diterbitkan oleh Penerbit Pensil-324, Jakarta dan sudah bisa didapatkan di Gramedia dan toko-toko buku lainnya.



Saya tidak pernah menyangka hingga pada suatu hari Ara – begitu kami biasa memanggilnya memberitahu kalau sebuah buku kumpulan cerpen miliknya – Kereta Pagi Menuju Den Haag sudah terbit. Sebenarnya tidak terlalu mengejutkan karena selama ini cerpen-cerpen Ara sering dimuat di Lampung Post. Tapi bagi saya ini mengejutkan sekaligus menyenangkan.

Kereta Api Menuju Den Haag, adalah salah satu judul cerpen dari enam belas cerpen yang tersaji di buku ini. Cerita tentang dua orang sahabat yang berjanji bersama meraih impian untuk menuntut ilmu di negeri Belanda. Dua orang sahabat – Tita dan Rere yang akhirnya sama-sama mendapatkan beasiswa tapi tidak bisa berangkat bersama, karena Tita harus mengundur keberangkatannya ke Belanda karena menikah lalu hamil. Rere menganggap pernikahan itu adalah sebuah kebodohan buat Tita, sebuah penghalang untuk mimpi-mimpi besar mereka. Dan ketika setahun kemudian kembali Tita ingin menunda keberangkatannya karena Erin-anaknya yang masih berusia lima bulan masih menyusu, Rere marah besar. Menganggap Tita sebagai perempuan yang manja dengan kemapanan dan melupakan perjuangan. Hingga akhirnya Tita jadi berangkat dan meninggalkan anaknya. Menggenapi janji untuk menuntut ilmu bersama di negeri Belanda. Tapi dua bulan kemudian harus kembali ke Indonesia karena Erin meninggal karena sakit. Rere lalu merasa sangat bersalah dan tidak berani bertemu Tita ketika Tita kembali beberapa minggu kemudian. Mengurung diri dan depresi hingga harus berobat ke psikolog.

Manusia Antar Bangsa, Istri Pilihan, Lesung Pipi Ibu, Anak-Kanak-Ku, Batu, Surat Pengusiran, Koran Pagi, Perempuan di Seberang Jendela, Lapangan Tengah Kota, Yang Terusir, Aku Ingin Pulang, Koper Hitam Sang Profesor, Orang Asingnya Mr. Caldwell, Ibunda, dan Di 55 Degree  North adalah lima belas cerpen lainnya yang tak kalah menariknya yang tersaji di buku ini.

Buku ini kaya akan cerita. Tentang sebuah impian, cita-cita, persahabatan, perempuan, keluarga dan juga kisah pahit manisnya hidup di negeri orang sebagai mahasiswa atau juga sebagai tenaga kerja. Semua disajikan Ara dengan kata-kata yang lincah dan mampu membawa imajinasi terbang menembus ruang. Saya dibawa terbang ke Lampung, sebuah kota dimana saya pernah tinggal dan menuntut ilmu. Dan ini membuat saya ingin kembali kesana untuk sekedar mampir melepas rindu. Ara juga membawa saya terbang ke negeri kincir angin yang lama saya impikan itu. Dan sial, cerita-cerita Ara dalam cerpen-cerpennya tentang Sungai Maas, Maastricht, Den Haag membuat hasrat saya semakin menggebu untuk berkunjung kesana. Seperti api yang tersulut, kobaran itu semakin menyala membakar hasrat dan impian saya. Ah, kalian pecinta negeri kincir angin, yang ingin sedang atau pernah berkunjung ke sana, buku ini wajib baca!

Tidak hanya ke Belanda, Ara juga membawa saya ke sebuah hujan di perempatan antara Northumberland Street dan Pilgrim Street di sebuah kota di Inggris sana. Tentang seorang Indonesia yang menembus hujan dengan menggigil kedinginan di suhu delapan derajat celcius hanya untuk membuktikan bahwa pelabelan “orang Asia selalu tidak tepat waktu” itu tidak benar.

Dan, masih juga saya dibawa terbang ke negeri jiran Malaysia. Ada seorang dosen dari Inggris disana, yang diragukan identitasnya oleh empunya rumah tempat dia menyewa hanya karena tahu sang dosen adalah warga Negara Indonesia.

Semua cerpen di buku ini menarik, mengesankan dan tentu saja menyentuh. Buku setebal 330 halaman ini saya habiskan dalam waktu dua malam saja. Dan masih ada hasrat untuk membaca ulang.

Sukses untuk Ara. Dan yang terakhir, saya rasa ke-16 cerpen Ara dalam buku kumpulan cerpen ini bisa dijelma menjadi 16 novel yang tak kalah menariknya.

Dan saya ingin sekali suatu hari bisa menulis novel bersama Ara, mungkin tentang kisah cinta antara Maastricht dan Salatiga 😛

Advertisements

15 thoughts on “Kereta Pagi Menuju Den Haag

  1. aseliii bukunya bgs…oke bgt..keren…
    Aku kenal Ara dr SMP,kita satu sekolah.Ara udah kayak saudariku..
    aku bangga Ara bs spt skrg…

    Wajib dibaca,terutama yg ingin spread ur wings to abroad…

  2. klo dari cover mang keliatan gak menarik. tapi, ceritanya ngeri alias mantab. untung aku buka plastiknya dulu (baca isi nya) sebelum pindah rak,….

    1. jalan2 antar blog dan hashtag, ketemunya sama mas Hartanto lagi >.<

      salam mbak Yessi, sy juga langsung beli buku ini ketika muncul di Surabaya dulu.. nice stories.. #demimemory ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s