Uncategorized

Di Bawah Pohon Beringin (Chapter I)

SUNYI….. 
 

      Malam ini hanya ada sunyi. Sama seperti malam-malam sebelumnya, aku hanya ditemani keheningan dan detak-detak jam dinding yang berkejaran melintasi sang waktu.

      Entahlah, entah sudah berapa lama aku terbelenggu dalam kesunyian ini. Aku seperti terdampar di pulau sunyi tak berpenghuni, terasing dari kehidupan di luar sana. Sendiri melintasi waktu yang terkadang menyeretku jauh ke masa lalu. Masa dimana aku masih bisa menikmati senyum hangat dan tatapan teduh itu. Waktu yang juga bisa melemparkanku jauh ke dasar jurang kenyataan pahit. Kenyataan bahwa tak berguna lagi kuberharap pada si empunya senyum hangat dan tatapan mata teduh itu. Senyum hangat dan tatapan teduh yang tak akan pernah menjadi milikku. Hatinya telah dihuni oleh sebuah cinta sejati, tiada lagi tempat untukku disana. Ahhh..andai saja.

      Bertahun sudah sejak pertemuan terakhir itu, namun senyum dan tatapan mata itu masih terus melekat di hatiku. Senyum dan tatapan mata yang tak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun. Sungguh, aku sangat mencintainya. Dan hingga detik ini, rasa itu masih tetap setia menempati ruang kalbuku. Berkali kuhalau pergi namun tapi tetap ada disini.

      Apakah aku salah karena tetap menyimpan rasa ini? Apakah aku terlalu bodoh tetap menyimpannya di hatiku? Apakah aku begitu bodohnya sehingga tak pernah mau beranjak dari asa itu. Padahal semuanya sudah tidak mungkin. Tidak mungkin! Mendapatkan cintanya dan tinggal diam di hatinya adalah sebuah harapan kosong. Menjadi pendamping hidup dalam suka duka untuknya adalah sebuah mimpi yang tak akan pernah menjadi kenyataan.

      Tapi kenapa aku masih tetap berharap? Kenapa aku belum bisa melupakannya? Kenapa raut wajah itu masih terus datang menghantuiku? Kenapa aku masih terus terbuai dengan semua kenangan yang ada? Kenapa aku masih selalu mengenang semua waktu yang pernah kulalui bersamanya. Kenapa senyum hangat dan tatapan mata teduh itu masih terus membayangi?

      Kenapa? Kenapa aku tidak bisa berhenti mencintainya.

      Ruang di hatiku masih hampa, kosong tak berpenghuni. Kehangatan cinta yang sekian lama telah kunantikan tak jua singgah dan mau diam disana. Hatiku seperti terkunci rapat, tak seorangpun yang kubiarkan masuk bahkan melihat ke dalamnya. Cintaku padanya masih terus bertahta di sana. Kubiarkan dia tetap disana. Diam di dalam ruang hatiku yang sunyi dan dingin.

      Aku tak tahu entah sampai kapan aku terbuai dalam harapan kosong ini. Entah kapan cinta ini bisa hilang, pergi dan berganti. Entah sampai kapan hatiku terkunci. Entah…entah…biarlah waktu yang menjawab semuanya.

Advertisements

One thought on “Di Bawah Pohon Beringin (Chapter I)

  1. Hi jeng,

    Ini merupakan sekilas novel cerita horor atau percintaa sich, koq ada kata Di bawah pohon beringin dan sunyi.

    Emangnya orang indihe kalo sedih atau senang dan bimbang carinya tiang. Berarti kalo orang Indonesia sedih dan bimbang nyarinya pohon beringin yach. hehehehehehehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s