Kereta Malam Menuju Jakarta

Ini adalah perjalanan yang tidak direncanakan, sekaligus perjalanan pertama setelah hampir dua tahun nggak pernah kemana-mana karena pandemic. Sebenarnya tujuannya bukan Jakarta, tapi kampung halaman tercinta yang ada di seberang pulau. Waktu itu tak ada pilihan yang lebih baik selain memilih naik kereta malam, tiba di Jakarta di dini hari lalu melanjutkan dengan pesawat pertama dari bandara Soekarno Hatta.

Saya tiba di stasiun Tawang dua jam sebelum kereta berangkat. Tak disangka ternyata suasana stasiun sangat ramai. Maklum saja, ini perjalanan pertama saya setelah hampir dua tahun nggak pernah kemana-mana dengan kereta atau pesawat. Yang saya bayangkan suasana akan sepi karena -sama seperti saya orang-orang hanya akan bepergian jika ada keperluan yang sangat mendesak dan tidak bisa ditunda. Ternyata saya salah. Tapi entah tentang keperluannya. Mungkin sama seperti saya, mereka juga punya keperluan yang mengharuskan traveling di malam itu.

Setelah check in saya pun duduk menunggu di ruang tunggu yang ramai dengan penumpang. Dan ketika kereta yang saya tumpangi tiba, saya dan penumpang lainnya langsung masuk ke gerbong masing-masing. Saya memilih gerbang tujuh. Saat memilih kursi sebenarnya di gerbong lain masih ada beberapa kursi kosong, tapi saya memilih gerbong yang penumpangnya belum banyak. Walaupun semua penumpang harus swab antigen atau PCR sebelum naik ke kereta, tetap saja tidak membuat saya merasa aman. Entahlah, mungkin saya terlalu berlebihan.

Penumpang di gerbong tujuh hanya ada delapan orang -termasuk saya. Saya mencoba untuk tidur, tapi pikiran yang jauh menyebrang ke kampung halaman membuat kantuk tak juga menyerang. Walaupun tidak mengantuk saya pejamkan mata, berharap bisa tidur sebentar saja.

Pukul 04.10 dini hari, seperti yang dijadwalkan, ditemani gerimis kereta yang saya tumpangi tiba di Jakarta. Saya memesan taksi online dan melanjutkan perjalanan ke bandar Soekarno Hatta. Suasana hati saya waktu itu, entah seperti apa. Tak bisa digambarkan. Driver taksi online yang sangat ramah dan mencoba mengajak saya mengobrol saya jawab seadanya. “Ke Medan ngapain, mbak? Mudik imlek ya?” ujarnya dengan semangat. “Bukan, pak! jawab saya tanpa memberitahu tujuan saya sebenarnya. Hujan masih turun dan sedikit mereda ketika saya tiba di bandara Soekarno Hatta.

Uncategorized

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s