Melintasi Perbatasan Belanda – Jerman

lippstadt

Seperti yang sudah dijadwalkan, pagi itu teman saya menjemput ke hotel. Kami berangkat dari Amersfoort menuju Arnhem, tempat yang sudah dijanjikan dengan dua orang teman saya yang lain. Kami berjanji bertemu di parkiran mobil dekat jalan tol. Lupa namanya. Satu orang teman saya kebetulan rumahnya di Arnhem (kami akan memakai mobilnya sampai ke Lippstadt, sebuah kota kecil di Jerman), sudah menunggu di sana waktu kami tiba.

Mobil teman saya akan ditinggal di tempat parkiran kami bertemu, teman saya yang satunya lagi – datang dari Meppel juga akan meninggalkan mobilnya di tempat parkiran itu. Kami berempat akan berangkat dengan satu mobil saja. Itu mobil-mobil ditinggal dua hari lho di parkiran dan nggak ada yang jagain.

20181118_173138.jpg

Jarak dari Arnhem ke Lippstadt sekitar 200km dan bisa ditempuh dengan kurang lebih dua setengah jam. Kalau dari lokasinya, Lippstadt ini malah lebih dekat ke Belanda daripada ke Berlin -ibukota negaranya ya.

Sepanjang perjalanan kami sibuk ngobrol tentang pekerjaan, salah satu teman saya (yang duduk di jok depan) malah buka laptop dan teleconference dengan orang kantor 🙂 Mereka bertiga ini adalah teman satu tim saya, mereka berkantor di Amersfoort, saya di Salatiga. Perjalanan kami kali ini adalah dalam rangka visit dan meeting di salah satu plant kita yang ada di Lippstadt.

Pemandangan sepanjang jalan hampir sama, kalau nggak perumahan ya padang rumput hijau yang banyak sapinya, banyak kincir angin juga. Tapi kincir angin yang buat listrik ya, yang terbuat dari besi. Bukan yang kaya di Zaanse Schans. Nggak tau kenapa, saya suka banget dengan pemandangan padang rumput dan sapi-sapinya. Mungkin karena wong ndeso kali ya. Hahahha….

Trus saya bertanya-tanya dalam hati, kira-kira perbatasan antara Belanda dan Jerman itu persisnya ada di mana ya. Karena saya mencari-cari gapura Selamat Jalan dan Selamat Datang tuh nggak ada. Kan, kalo di Jawa Tengah ya, beda kabupaten aja kan ada gapuranya tuh. Ini batas negara kok nggak ada gapura. Hahahaha…..entahlah, mungkin sayanya aja kali kelewatan karena asyik ngobrol. Tapi, sebuah SMS dari operator telepon yang waktu itu saya pakai menjadi pertanda kalau saya sudah ada di wilayah Jerman.

20181118_175334.jpg

Waktu itu sekitar jam 11 siang. Abaikan jam yang ada di SMS nya, karena ini saya capture waktu sudah di Indonesia, jadi jamnya otomatis ikut waktu Indonesia Barat. Nggak ada perbedaan waktu antara Belanda dan Jerman. Dan dengan Indonesia, Belanda lebih lambat lima jam. Tapi di musim dingin perbedaan waktu dengan Indonesia jadi enam jam ya. Sekitar awal-awal Oktober lah, telecon meeting yang biasanya jam 4 sore waktu Indonesia barat jadi jam lima waktu Indonesia barat. Jadi lo nggak bisa pulang tenggo.  (curhat ya, mba? 😛 )

Kata teman saya, sebenarnya kita bisa merasakan perbedaannya dari tekstur jalan tolnya. Padahal saya merasa sama aja tuh mulai dari berangkat dari Amersfoort sampai tiba di Lippstadt. Trus kita bisa juga lihat dari laju mobil-mobil yang ada di jalan tol. Berbeda dengan di Belanda, di Jerman tidak ada pembatasan kecepatan mobil di jalan tol. Makanya mobil-mobil di jalan tol was-wus karena bisa mencapai 200km/jam.

20181118_174817.jpg

Teman saya karena sudah terbiasa dengan pembatasan kecepatan laju mobil di Belanda, nggak tega untuk nyetir 200km/jam. Tapi menurut saya juga udah cepat sih. Jam dua belas kurang, setelah keluar tol dan melewati ladang-ladang gandum dan jagung, dan area perumahan yang bikin saya dejavu parah, kita pun berhenti di sebuah kafe yang tak jauh dari kantor.

Karena memang sudah jam makan siang, kita mampir dulu di kafe untuk mengisi perut. Pengen pesan ayam penyet sama cah kangkung sebenarnya, tapi adanya cuma rerotian dan salad-saladan dan kawan-kawan kaya gini. Hahahaha….

20181118_175021.jpg

Setelah makan kita langsung menuju lokasi tujuan. Meeting dan factory tour sampai sore, dan baru nyampe hotel menjelang malam. Trus masih lanjut dinner meeting yang kupikir akan selesai jam delapan malam, ternyata baru selesai jam sebelas malam. Jam sebelas malamnya Lippstadt di musim panas sama seperti suasana jam enam sore di Salatiga. Tapi hayati kan udah lelach sesuai jam yang sebenarnya. Sungguh hari yang melelachkan tapi aku bahagiak sih. Nanti abis ini aku ceritain tentang hotelnya ya. Happy weekend, gengs! 🙂 Eh besok udah Senin, woy!

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s