Novel

Di Bawah Pohon Beringin (Another other Chapter)

HAMPIR MAMPUS DIHAJAR SEPI

Apakah aku harus menyesali semuanya? Apakah aku harus
menyesal karena dulu tak pernah mampu mengungkapkan perasaanku
pada dia? Karena aku menyimpan jauh cinta ini. Seandainya saja aku
punya sedikit keberanian.
Tapi waktu itu aku takut. Aku takut perasaanku salah. Aku takut dia
akan menjauhiku. Aku takut aku akan kehilangan hari-hari bersamanya.
Aku takut pengakuan itu hanya akan merusak kebersamaan yang telah
terjalin indah. Walau jelas itu bukan jalinan cinta.
Berkali kali sudah, kukira cinta ini akan hilang, kukira cinta ini akan
terhapus bersama hujan, kukira cinta ini akan terbang bersama angin,
kukira cinta ini akan pudar dengan sang waktu. Tapi ternyata aku salah.
Rasa itu masih tetap ada disini, tumbuh subur , menancapkan akarakarnya
di hatiku.
Aku tak berdaya. Setiap kali senyum dan tatapan mata itu datang
menghampiriku, aku tak bisa menghindar. Tak bisa juga kuhalau dia pergi.
Aku dibuai angan-angan. Aku terlena dalam mimpi-mimpi indah yang
kurangkai. Padahal kutau semuanya sudah tak mungkin.
Lalu apa yang harus aku lakukan? Sudah kulakukan semuanya
untuk dapat melupakannya? Sudah kucoba berbagai cara untuk mengusir
bayang wajahnya. Tapi kalo ternyata tak jua kuberhasil apa yang harus
kulakukan?
Di Bawah Pohon Beringin – by Yessi Greena Winda Purba
112
Menangis tiada guna, menyesal hanya akan menambah luka.
Mengharap akan membawaku ke jurang kesedihan. Lalu apa yang harus
kulakukan?
Seberapa besarkah cintamu padanya?
Aku tak tau pasti, yang kutau diam-diam aku masih
mengharapkannya. Dan ada perih yang teramat sangat ketika kusadar di
hatinya sudah ada bidadari jiwanya.
Lalu untuk apa kau terus mencintainya? Bukankah sudah saatnya
kau melupakan semuanya? Bahkan seharusnya kau sudah melakukan ini
sejak dia memilih bidadari jiwanya.
Aku tak tau. Kau kira aku tak pernah berusaha untuk
melupakannya? Kau kira aku yang memanggil senyuman dan tatapan
mata teduh itu datang menggangguku. Dia yang datang sendiri. Kuusir tak
mau dia pergi!
Tapi tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Harusnya kau sudah
bisa melabuhkan hatimu di hati yang lain. Karena kau tau percuma
mengharapakannya.
Sudah kucoba. AKU TAK BISA!!
Lalu kenapa dulu kau tak berterus terang saja. Siapa tau dia juga
mencintaimu?
Waktu itu aku tidak siap kehilangan dia. Aku takut perasaanku
salah dan akan merusak persahabatan yang sudah terjalin dengan indah.
Di Bawah Pohon Beringin – by Yessi Greena Winda Purba
113
Tapi bukankah sekarang kau juga sudah kehilangan dia? Kenapa
tidak juga kau menyadarinya? Sekarang sudah tidak ada gunanya
mencintainya diam-diam.
Aku tau…
Lalu kenapa kau masih saja tetap seperti itu. Meratap di sudut itu
menyesali cintamu yang tak sampai.. Jika kau memang tak bisa
menahannya katakanlah sekarang, Katakan padanya jika kau telah lama
mencintainya. Agar seluruh dunia tau tentang cintamu yang telah lama
terpendam itu. Ayo katakan! Katakan padanya…siapa tau dia juga
mencintaimu?
TIDAK!! AKU TIDAK AKAN MELAKUKAN HAL BODOH ITU?
Apa kau kira apa yang kau lakukan selama ini tidak bodoh? Yang
kau lakukan selama ini adalah bodoh dan tak berguna. Jika kau
menyatakan cintamu mungkin memang bodoh. Tapi siapa tau ada
hasilnya. Siapa tau juga dia mencintaimu?
KAU GILA! Aku sudah bilang aku tak akan merusak yang sudah
terjalin indah?
Dan kau lebih memilih merusak jiwamu sendiri?
Aku tidak merusak jiwaku. Aku hanya mencintai dia. Biarkan aku
mencintainya diam-diam.
Kau tidak hanya mencintainya! Tapi kau juga diam-diam
mengharapkannya. Kau katakan itu tadi padaku. Sudahlah..kurasa kau
sudah mulai gila.
Di Bawah Pohon Beringin – by Yessi Greena Winda Purba
114
Lalu aku harus bagaimana?
Lakukan sesuatu! Jangan hanya diam. Sekarang pilihanmu hanya
ada dua. Maju cepat dan nyatakan cintamu, Atau mundur jauh dan
lupakan semuanya. Sampai kapan kau harus terus begini, Bersembunyi
dalam kesunyian yang panjang?
Kurasa yang terbaik adalah mundur jauh dan melupakan
semuanya.
Dan melupakan semuanya? Membuang jauh semua cinta dan
harap yang masih kau simpan?
Akan kucoba!
Tapi apakah kau benar-benar tidak akan menyesal? Apakah kau
tak ingin dia tau bahwa kau sangat mencintainya? Mencintai tidak harus
memiliki bukan?
TIDAK! Bagiku mencintai harus memiliki. Bagiku tidak memilikinya
juga berarti tidak juga mencintainya. Untuk apa mencintainya orang yang
mencintai orang lain? Untuk apa bertamu ke rumah orang yang sudah
memutuskan tinggal di rumah orang lain.
Tapi kau mencintainya bukan? Bahkan sangat, dan hingga saat ini.
Hingga detik ini,
Tapi tak kubiarkan seorangpun tau, selain kau hai jiwaku!
Dan inikah saatnya kau akan melupakan semuanya? Melangkah
menjauh meninggalkan asa yang sudah kau tanam. Menanggalkan cinta
yang terpendam lama. Benarkah ini saatnya kita terbang melesat mencari
Di Bawah Pohon Beringin – by Yessi Greena Winda Purba
115
cinta yang lain? Cinta yang lebih mungkin untuk digapai, hati yang lebih
dekat untuk direngkuh?
Entahlah. Kurasa aku tak yakin. Bayangan itu masih sangat kuat.
Cinta itu masih teramat sangat mengikat.
AKU MUAK MELIHATMU!! Tak tau malu kau! Beraninya kau
mencintai suami orang!
Tapi aku sudah mencintainya sebelum dia menjadi suami siapapun.
Dan harusnya kau berhenti setelah dia menjadi suami perempuan
itu bukan?
Aku tak bisa!
Kau harus bisa!
Aku sudah mencoba dan aku tak bisa
Kau belum mencoba lebih keras. Jiwamu lembek! Cengeng! Kerdil!
Kau biarkan harapanmu itu tumbuh. Kau biarkan cintamu itu bertahta
disana. Seharusnya kau buang semuanya! Seharusnya kau babat habis
lalu kau buang ke samudra. Tapi kau tak melakukannya. Kau hanya
bergelut dengan penyesalan!
Aku sudah mencobanya. Berkali-kali!!
Aku tak percaya padamu!
Kau harus percaya. Kau harus percaya bahwa sejak awal aku
sudah berusaha membunuh cinta ini. Kau harus percaya bahwa aku
sangat terluka dengan semua ini.
Kau yang menorah lukamu sendiri.
Di Bawah Pohon Beringin – by Yessi Greena Winda Purba
116
Kau kira aku gila?
Ya, kau memang gila! Kau bodoh!
Aku tidak gila! Aku tidak bodoh!
Membiarkan cinta itu tumbuh mekar adalah kebodohan!
Tapi aku tak membiarkannya!!
KENAPA TAK KAU BUNUH????
Sudah kulakukan!
TIDAK! KAU TAK PERNAH MEMBUNUHNYA
Sudah!
TIDAK!
Sudah!
TIDAK!!
AAAhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh……
Hening…..
Dinginnya angin malam menampar wajahku. Tirai jendela yang
menjuntai berkibar-kibar ditiup angin malam yang menusuk.
Sepi….
Disini..aku hampir mampus dihajar sepi..
Di Bawah Pohon Beringin – by Yessi Greena Winda Purba
117

Advertisements

One thought on “Di Bawah Pohon Beringin (Another other Chapter)

  1. Kamu sudah memilih meninggalkan tempat ini, tempat yang penuh sesak dan penat. Jalanilah hidupmu dengan tentram disana, hanya ditemani rumput yang bergoyang dan suara angin yang berhembus hingga tiada lagi terucap kata Mampus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s