travelling

Rekayasa

Pernah dapat nilai enol? Iya nol, telor, bunder, yang artinya adalah semua jawabanmu salah semua. Daku pernah dapat nilai nol di pelajaran Matematika pada jaman SD kelas satu. Jadi waktu itu kita dikasi soal latihan penambahan dan pengurangan yang angkanya gede-gede banget. Padahal kelas satu juga baru beberapa minggu ya. Ngitung satu tambah satu aja baru bisa. Udah dikasi….ahhh…ngeles aja lo, Yes! Bilang aja kalau lo emang ngga bisa jawab dengan benar! Hahahahah…

Jadi pada suatu hari, guru daku yang super sabar ituh memberi soal latihan kepada murid-muridnya. Entahlah mungkin karena waktu itu daku malah melamun dan tidak memperhatikan pelajaran atau sibuk mengobrol sama teman sebangku daku, maka pada saat diberi soal latihan jawaban daku jadi salah semua. Dan ketika ibu guru mengembalikan lembar jawaban daku, daku harus tabah dan kuat menerima kenyataan pahit ituh. Ada angka nol gedek banget bertengger disana, man-teman. Warnanya merah pulak. Dan pahitnya lagi, lembar jawaban itu harus diberikan kepada orangtua untuk ditandatangani, lalu nanti harus dikembalikan lagi ke ibu guru. Piye perasaanmu? Piye????

Daku sudah bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan Kakek daku ( daku memang tinggal bersama Kakek, orangtua daku tidak kuat memelihara anak senakal daku…wahahahhah….bukan ding, ini dusta!) nanti bila melihat nilai telor besar itu. Bukankah itu berarti cucunya ini sunggu sangat bodoh dan dungu sekali? Di samping itu daku juga was-was jangan-jangan nanti uang jajan daku akan dipotong karena peristiwa ini.

Lalu daku dan teman sebangku daku yang sama-sama nilai nol pun berunding mencari jalan keluar. Waktu itu emang banyak yang dapat nilai nol ya. Jadi tolong kau ubah persepsimu tentang daku. Pasti tadi kaupikir daku ini orang paling bodoh di kelas kan? Iya kan? Ayo ngaku…muahahahhaha….

Ehm…kita pun sepakat, menambah angka satu di samping si enol gedek banget itu. Kalo nol tambah satu kan jadi sepuluh dong ya! Iya, betulll…jadi nilai nol sekarang berubah jadi nilai sepuluh. Anak pinter….pelajaran Matematika dapat nilai sepuluh. Lho, tapi kan tanda salahnya ketauan, Yes? Tenang..waktu itu guru daku memberi tanda salah dengan garis doang. Jadi kalau tanda benar bu guru memberi tanda seperti check list gitu, kalau salah cuma garis. Nah, kan tinggal nambahin dikit tuh di garisnya biar jadi kaya check list. Pinter!!! Iya, pinter! Tenanglah perasaan daku waktu itu.

Tapi apa yang terjadi kemudian? Mungkin karena masih SD ya, masih kelas satu pulak. Belum mikir terlalu panjang. Pada saat memberikan lembar jawaban yang sudah direkayasi itu ke Kakek daku untuk ditandatangan, pasti beliau tau dan sadar kan ya kalau nilai sepuluh itu adalah rekayasa. Nah daku waktu itu ga mikir sampai disitu. Dan tentu saja kakek daku nggak mau tandatangan malah menginterogasi daku.

Jadi singkat cerita..daku ketauan merekayasa nilai daku, saudara-saudara! Kakek daku nggak mau tandatangan. Lalu daku diceramahin panjang lebar keliling. Dan sejak saat itulah daku menjadi anak yang jujur dan tidak berani merekayasa apapun πŸ™‚

Lalu bagaimana dengan bu guru? Ahhh…jadi panjang persoalannya. Daku akhirnya mengaku salah kepada bu guru. Menceritakan kronologis rekayasa nilai dan memberi tahu kalau Kakek daku sudah tahu nilai sebenarnya dan tidak mau tandatangan. Lagi-lagi daku diceramahin. Dan sejak saat itu bu guru pasti memberi tanda silang pada jawaban yang salah. Hahahahhaha….

Ini sebenarnya kisah memalukan yang ingin kusimpan selamanya, tapi demi #30HariCeritaKebodohanMasaKecil….biarlah kalian tahu siapa daku sebenarnya. Hahahahahhaa… πŸ˜€

Advertisements

7 thoughts on “Rekayasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s