Mom's Story

Di-Bully Atau Mem-Bully?

Urusan sekolah anak TK jaman sekarang, emang bukan hanya sekedar hari ini pakai seragam yang mana dan bekalnya apa ya. Banyak hal-hal lain yang menurut saya di jaman dulu nggak ada, tapi kok sekarang kek gini ya?

Emak-emak yang anaknya TK pasti tahu tentang hal ini.

Jadi beberapa waktu yang lalu teman saya cerita tentang anaknya yang tiba-tiba susah banget dan cenderung tidak mau berangkat sekolah. Waktu ditanyain kenapa si anak nggak kasi alasan, cuma bilang ‘pokoknya nggak mau sekolah’. Tapi setelah dibujuk rayu sama emaknya, akhirnya si anak terbuka dan menceritakan alasan sebenarnya. Ternyata si anak malas sekolah karena sering dibully sama kakak kelasnya. Kebetulan anak ini masih TK kecil dan yang sering ‘ngerjain’ dia adalah anak TK besar.

Katanya si kakak kelas sering memanggilnya dengan sebutan tidak menyenangkan, juga sering tiba-tiba nonjok aja gitu. Dan teman-temannya bukannya nolong malah ikut-ikutan ngejekin si anak karena dia nangis.

Biasanya ketahuan bu guru sih, trus si kakak kelas disuruh minta maaf. Iya dia minta maaf, tapi besoknya masih diulangi lagi.

Dan karena si anak udah males dan capek menghadapi kakak kelas ini, makanya akhirnya dia mogok sekolah.

Ada yang punya pengalaman sama?

Waktu awal-awal masuk sekolah saya juga agak khawatir dengan nasib si boy. Waktu itu umurnya baru 3.5 tahun dan dia masuk KB. Di sekolah yang sama ada TK kecil dan TK besar. Dan semua siswa KB, TK kecil dan TK Besar akan bertemu di jam sebelum masuk sekolah dan di jam istirahat. Iya, jam istirahatnya disamain.

Si boy juga pernah mendapatkan gejala pembullyan dari kakak kelasnya. Karena postur tubuhnya waktu itu emang agak berisi, beberapa anak TK besar banyak yang gemes sama si boy. Dan salah satu dari mereka –yang kabarnya adalah anak ternakal di sekolah itu memanggil si boy dengan sebutan ‘gemblong’. Saya mendengar sendiri anak itu memanggil si boy dengan sebutan ‘gemblong’. Daaaann…naluri ke-emak an saya langsung bangkit…anak itu langsung saya datangi. Saya sudah tidak peduli lagi dengan teori “biarkan anak menyelesaikan konfliknya sendiri”. Saya nggak mau anak saya dipanggil dengan sebutan ‘gemblong’. Tapi tentunya saya nggak langsung marah-marah dong ya. Hehehe….

Waktu itu saya mendatangi anak tersebut dan memulai percakapan dengan bertanya : “Kamu tadi panggil dia apa?” Setengah kaget dia menjawab ,”Gemblong, bu!” Lalu saya tanya lagi, “Namanya Java. Kenapa kamu panggil dia Gemblong?”. Si kakak kelas mulai takut, padahal saya nanyanya sambil senyum ramah dan nggak pake galak sama sekali. Karena dia diam aja, saya lanjut ngomong : “Ingat ya, namanya Java. Jangan panggil dia Gemblong. Dan kalau ada yang panggil dia Gemblong kasi tahu sama tante!” lanjut saya sambil menatap matanya dalam-dalam. (hahahha….tapi beneran saya tatap matanya dalam-dalam). “Iya…iya, tante!” jawabnya agak ketakutan. Setelah itu saya ngomong sama si boy : “Kalau ada yang manggil kamu ‘Gemblong” lagi kasi tau sama kakak ini ya. Jangan mau dipanggil Gemblong.” Java yang waktu itu masih imut pake banget cuma bilang “Okay, ma.” sambil cengar-cengir.

Saya memang sengaja ‘membebani’ si kakak kelas dengan tanggung jawab mengawasi penggunaan panggilan ‘gemblong’ untuk si boy. Sebutan itu berasal dari dia, dan sekarang saya ‘beri’ dia tanggung jawab untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang akan memanggil si boy dengan sebutan ‘gemblong’. (anak orang, woy!! yoben…yang penting kan saya tidak melakukan tindak kekerasan verbal dan fisik pada si kakak kelas )

Seminggu dua minggu saya memantau apakah sebutan “Gemblong” masih mengudara atau tidak. Dan syukurlah ternyata si kakak kelas sudah tidak pernah lagi memanggil si boy dengan sebutan itu. Anak lain juga nggak ada yang menggunakan sebutan itu untuk si boy. Dan malahan si kakak kelas cenderung jagain si boy kalau sedang main. Kalau kebetulan papasan di jalan dia juga pasti menyapa dengan ramah “Dek Javaaaa!” sambil senyam-senyum.

Mungkin sebutan “Gemblong” hanyalah masalah sepele buat orang lain. Tapi saya nggak akan membiarkan anak saya dipanggil dengan sebutan itu. BIG NO! Dan saya sangat bersyukur karena bisa mendeteksi dan membasmi gejala pem-bully an pada anak saya. Nggak kebayang kalau anak saya juga mengalami hal yang dialami anak teman saya. Nggak mau sekolah karena dibully sama teman-temannya. Duh, kasian banget kan. Anak-anak harusnya bahagia di sekolah mereka.

school-background-design_1308-592

Walaupun sudah ‘selamat’ dari sebutan “Gemblong” saya membiasakan si boy untuk bercerita tentang kegiatannya di sekolah. Jadi di malam hari dia selalu bercerita pada saya tentang detail kejadian di sekolahnya hari itu. Kalau ada adegan dia nangis, saya bertanya kenapa dia nangis. Kebanyakan sih karena dia berantem sama anak TK besar. Ya kalau berantem sih beda cerita ya. Tapi jarang banget sih. Dan hampir tidak pernah. Kita memang tidak bisa 100% melindungi anak dari pem-bullyan, tapi paling tidak kita udah berusaha ya. Dengan cerita mereka selama di sekolah paling tidak kita bisa mendeteksi adanya gejala pem-bullyan dan bisa segera dicari jalan keluarnya.

Teman-teman ada yang punya pengalaman serupa nggak? Anaknya di-bully atau mem-bully?

picture from here

Advertisements

10 thoughts on “Di-Bully Atau Mem-Bully?

  1. Anak saya pernah ditonjok sama temannya pas kita lagi makan di resto fastfood, dan alasannya karena anak saya ikut mengejek temannya yang gendut ;(

    Saya sedikit marah terhadap anak yg dibully tsb namun seketika itu juga saya sadar anak saya yang salah dan saya suruh segera minta maaf mba 🙂

  2. baru kemaren si andrew cerita di sekolahnya lagi diajarin gak boleh teasing anak lain dengan nickname. emang bully banget tuh kalo sampe manggil2 pake nickname begitu…

    trus di sekolah andrew anak2 disuruh nonton/denger poem ini…

    bagus tuh… 🙂

  3. Jadi inget saya pernah juga datengin langsung anak yang mukul Thifa. Langsung saya cengkram tangannya, (karena dia kayaknya mau lari) saya tanya dengan nada galak. Untung di sana ngga ada ibunya hahaha.

  4. Halo Mbak Yessi 🙂

    Fenomena bullying ini emmang sering terjadi, bahkan utk kelas TK sekalipun. Biasanya saya (sebagai guru) akan langsung panggil anak yg dibully dan membully, kemudian kita ulik masalah yg terjadi.
    Sedih sih ya, kalau ada kakak kelas suka mengejek adik kelas gini. mOga2 gak kejadian lagi

    Bagus jg yg mba Yes lakukan supaya si boy tetap mau cerita

  5. wah aku juga punya pengalaman di bully krn fisik jaman sd, tp aku punya support system yg keren banget di sekolah, yaitu kakakku. btw ini sebenarnya lg gerilya nunggu utangan 3 postingan hehehehe

  6. Hai mba Yessi,

    Masalah bully ini sering dialami anak kedua saya. Mulai dari yang ringan hingga yang berat (mogok sekolah). Setiap ada masalah dengan anak di sekolah, saya langsung lapor ke gurunya. Saya tidak tahu kejadiannya. Saya tidak tahu siapa yang memulai. Jadi saya pilih netral sambil terus mendukung si anak.Kecuali untuk kasus tertentu saya pernah menghubungi ortu temannya.

    Pernah sampai saya dan ortu temannya dihadirkan kepsek demi mengurai masalah ini. Jadi bukan saja anak saya sebagai korban yang tahu tapi ortu si pembully harus bisa menerima dan memperbaiki keadaan.

    Btw, nice sharing tentang dek Java.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s