Sore yang Penuh Kenangan di Zaanse Schans

IMG_20180710_023047_541.jpgMeskipun “divonis” sebagai seorang ENTJ, kalau udah menyangkut traveling atau jalan-jalan saya orangnya bisa yang pasrah aja gitu sama keadaan. Okay, umm….konsep jalan-jalannya udah saya gambarkan di kepala sih sebenarnya. Tapi gimana di lapangannya ntar saya bisa yang ‘dipikir sambil mlaku’ gitu. No itinerary, jalan jalan aja. Sendirian pulak 🙂

Sebenarnya Zaanse Schans ga ada di angan-angan saya, pokoknya bisa mampir Maastricht aja udah lebih dari cukup. Saya mah anaknya gitu, nggak muluk-muluk, ga macem-macem hahahaha….silahkan protes. Tapi karena -di sore terakhir kebersamaan kami, teman saya bilang “lo belum sah ke Belanda kalau belum liat kincir angin beneran” membuat saya tertantang untuk mensahkan kunjungan saya ke negeri kincir angin. Katanya Zaanse Schans tempat yang paling dekat dari Amsterdam. Yes, saya pindah ke Amsterdam untuk bertemu dengan seseorang (kepo ketemu siapa? hahahaha….percaya aja lo!)

Karena saya nggak tahu sama sekali seluk beluk Amsterdam, dan ini adalah kunjungan pertama saya juga, tadinya mau ikut semacam tour aja gitu ke Zaanse Schans nya. Cari-cari info di internet tapi kok lumayan ya biayanya. Hmmm…ga jadi ikut tour. Berangkat aja sendiri. Kalau nyasar tinggal tanyak, yang penting bawa handphone bawa duit.

Berangkatlah saya dari hotel dengan naik tram nomor lima dua ke Amsterdam Centraal. Dari Amsterdam Centraal lanjut naik kereta. Sebenarnya bisa naik bus sih, tapi kok kayanya lebih ribet ya. Turunnya dimana nggak jelas gitu. Lagian di Salatiga kan nggak ada kereta, bus mah banyak.

Akan ada beberapa stasiun kereta yang namanya mirip-mirip. Dan baca-baca di blog orang, ada beberapa orang lho yang salah turun. Karena nama stasiunnya emang mirip-mirip. Kalau nasib perjalananmu ke Zaanse Schans sama dengan saya, pastikan kamu turun di stasiun Zaandijk Zaanse Schans.

IMG_20181116_203111_754.jpg

Turun dari kereta langsung cari pintu keluar. Stasiun ini termasuk stasiun kecil dan sepi. Mungkin pengunjung desa Zaanse Schans banyak yang datang dengan bus kali ya, atau kendaraan pribadi atau bus pariwisata. Emang elo, Yes? Naik kereta sendirian kaya anak hilang. Hahahahha…. Nah, setelah keluar dari stasiun langsung ada petunjuk arah kaya gini nih….

IMG_20181114_213132_180.jpg

Katanya sih ada persewaan sepeda, ya. Tapi saya mah pilih jalan kaki ajalah. Satu kilometer mah dekat, trotoarnya juga sangat bersahabat dengan pejalan kaki.  Kita akan melewati deretan rumah-rumah khas Belanda dengan batu merahnya, trus bunga-bunga bermekaran di bawah hangat sinar matahari.

IMG_20181114_213345_935.jpg

Dari arah stasiun kan jalan lurus aja terus, nanti setelah ketemu pertigaan ambil kiri aja kak. Setelah itu kita akan melewati pabrik coklat yang ada di kiri jalan dan beberapa cafe di kanan jalan. Lalu kita akan sampai di persimpangan ini. Nah, tepat di sudut jalan ini ada kincir angin berwarna hijau.

IMG_20181114_213748_879.jpg

Setelah sampai persimpangan ini ambil kanan, kita langsung sampai di jembatan. Daann…terpampang nyatalah kincir angin yang selama ini cuma dilihat di gambar atau video orang.

IMG_20181114_213932_514.jpg

Saya nongkrong sebentar di jembatan untuk menikmati pemandangan yang jaman SD lihatnya di kalender doang, nongkrong nyambi tukang poto keliling. Hahahah….mungkin karena muka saya yang ramah (shombong! bahahahaha…..), beberapa pasangan tanpa ragu minta tolong saya untuk dipotoin dengan latar belakang pemandangan ini.

Duh masuk ke jalan desa kok saya jadi semacam dejavu ya. Mungkin karena saya asalnya dari desa ya. Apalagi waktu lihat lorong ini. Langsung inget kenangan masa kecil waktu manjat pohon jambu bareng best friend saya di samping rumahnya. Trus aku tibo -trus diguyu-trus aku nesu- trus aku dikei jambu sing gedhi- trus bar kuwi nonton film India sambil mangan bakpao. Mbuh...gak roh korelasine opo karo kincir angin dan desa Zaanse Schans…hahaha…

IMG_20181101_203049_006.jpg

Jadi semacam penyimpangan tujuan ya, kan tujuane mau mensahkan kunjungan ke Belanda dengan melihat kincir angin yang nyata, tapi kok malah teringat masa kecil yang indah indah waktu di desa.

IMG_20181114_215447_815.jpg

Suasana di sini emang damai banget. Kita disuguhi dengan deretan rumah-rumah mungil yang lihat dari luar aja udah kerasa kehangatan sebuah keluarga yang sederhana. Juga hamparan rerumputan lengkap dengan mbak-mbak sapi yang sedang merumput, dan sungai yang emang airnya nggak bening sih tapi tetap aja memesona.

Zaanse Schans

Tadinya pulangnya mau nunggu sunset dulu. Karena udah kebayang pasti bagus banget pemandangan sunset dengan latar belakang desa Zaanse Schans ini, tapi sunset di Belanda di musim panas kan datangnya jam sembilan an malam, padahal saya masih harus beli tempelan kulkas dan coklat di daeran Dam Square -yang mana tutupnya maksimal jam delapan malam gitu. Yasud, akhirnya setelah puas mengenang masa kecil di desa yang kusuka ini, sayapun pulang dengan kereta.

IMG_20181117_171533_079.jpg

Siapa sangka ya, gadis kecil yang jatuh dari pohon jambu – diguyu – nesu – trus dikei jambu sing gedhi – trus nonton film India sambil makan bakpao itu, bertahun-tahun kemudian di Zaanse Schans – tempat yang beribu kilometer jauhnya dari pohon jambu di samping rumah sahabat kecilnya, merasakan hangat di hatinya ketika mengingat kenangan masa kecilnya. Walaupun sahabatnya itu, tak pernah lagi terdengar kabarnya dimana.

 

(Johan, wherever you areif you read this, i would like to let you know that…i miss you… )

Zaanse Schans, a few days before my birthday

 

 

 

Advertisements