Embrio Novel · Novel · travelling

Tentang Maastricht Memory ituh…

Mungkin kalian mulai bosan mendengar atau membaca bahasan saya tentang #MaastrichtMemory yang tak juga berujung pada lahirnya sebuah novel nyata. Bukan hanya sekedar penggalan-penggalan percakapan antar tokohnya yang (sengaja) saya pamer di facebook dan atau twitter.

Dengan berbagai alasan dan pembenaran saya diampuni oleh diri saya sendiri, bahwa saat-saat ini bukanlah saat yang tepat untuk menyelesaikan #MaastrichtMemory. Oke, bilang saya penulis malas. Saya dengan sepenuh hati menerimanya. Tampar aku, mas! Tampar! Apaan sih, Yes? 🙂

#MaastrichtMemory ini beda dengan novel-novel saya yang sebelumnya. Kalau di novel-novel sebelumnya tujuannya saya adalah untuk menjadi penulis terkenal (dan sialnya tidak berhasil! hahahaha…), pada #MaastrichtMemory saya tidak menggantungkan harapan apa-apa. Saya hanya ingin menuntaskan #MaastrichtMemory. Menghadirkan tokohnya dalam lembar demi lembar yang setiap saat bisa saya baca. Itu saja.

Tapi sayangnya saya belum bisa menyelesaikannya. Tidak sekarang.

woman-writer-27083216

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s