Mom's Story

Tentang Emak-emak Rempong

Untungnya ya, teman-teman saya yang sama-sama emak-emak orangnya nggak ada yang sok pinter dan menggurui. *abis-baca-beberapa-blog-tentang-curhat-emak-emak-yang-sebel-diikut-campuri-cara-ngurus-anak*

Emang nyebelin banget sih kalo tiba-tiba ada orang yang nggak tahu apa-apa tentang elo tapi dengan sok taunya men-judge ini atau itu, ngatain kalau ini nggak benar dan lo harusnya begini dalam membesarkan anak lo. Heloowww…emangnya dikau siapa buk, nenek moyang gueh?

Kebetulan saya dan teman-teman saya punya anak yang hampir seumuran. Yang mana tumbuh kembangnya pasti hampir sama lah ya. Tapi kita nggak pernah tuh yang bandingin anak-anak kita, nggak pernah men-judge anak si A lebih ini, anak si B lebih itu. Kita juga nggak pernah ‘berkompetisi’ dalam rangka mengejar anak siapa yang paling sempurna dan dibesarkan dengan pola asuh yang baik dan benar.

Malah dengan santainya bercerita tentang anaknya yang pipis di atas bantal. Atau anak saya yang kecanduan nonton Spiderman dan kemudian minta ke Amerika untuk ketemu Spiderman. Atau anak teman saya yang kalo pup harus di bawah kolong tempat tidur. Atau anak teman saya yang lainnya yang hobi banget makan permen sampai akhirnya sakit gigi. Dan banyak cerita-cerita konyol lainnya yang mungkin bagi ibu yang (merasa) sempurna adalah aib yang harus disembunyikan.

Anak si A sudah disekolahkan sejak usia satu setengah tahun, nggak ada yang rese komen ini itu. Anak saya belum sekolah padahal umurnya udah hampir tiga tahun, nggak ada yang nanya alasannya kenapa. Anak si C udah pakai pospak sejak baru lahir, nggak ada yang protes. Masing-masing kita menjalani peran sebagai ibu dengan apa adanya, semampunya. Tidak ada yang menjadi guru. Kita saling berbagi pengalaman, memberi saran apabila diminta dan membantu apabila dibutuhkan. Kita juga saling mengerti bahwa seseorang pasti punya alasan yang kuat dalam menentukan pilihan apa yang diberikan untuk buah hatinya. Mereka tahu apa yang terbaik buat anak mereka.

Saya nggak ngerti dengan jalan pikiran orang yang dengan gampangnya men-judge orang salah mendidik anak. Dengan sok pintarnya mendefinisikan ini begitu itu begitu. ย Tapi saya selalu mencoba berpikir positif. Mungkin mereka sebenarnya bermaksud baik, mengingatkan sesama agar tidak terjerumus dalam lubang yang sudah pernah dilaluinya. Atau memang hobi men-judge orang. Atau memang punya banyak sekali waktu luang untuk mengurusi kehidupan orang lain.

“Anaknya kenapa nggak dikasi ASI aja. Ntar gampang sakit lho!”

“Eh ya ampun, udah segede gitu masih pakai pospak?”

“Astaga, umur segini giginya udah rusak?”

“Duh, anaknya kok dibiasain makan fast food sih?”

“Makannya kok jalan-jalan sih?”

“Duh anak sekecil ini kok udah mainan tablet ya?”

“Kok belum disekolahin sih? Anak saya umur setahun udah sekolah lho”

“Duh…kegendutan tuh anaknya.”

“Anaknya kok kurus banget?”

“Dibiasain makan sayur dong.”

and so on..and so on…

Ayo, ibu-ibu…..siapa yang udah pernah dapat salah satu pertanyaan dan atau pernyataan di atas? Atau malah sebaliknya? ๐Ÿ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s