Fiksi

Sepuluh Tahun Kemudian…

…….

Kau benar, waktu akan menyembuhkan semua luka. Ia juga akan pelan-pelan merapikan serpihan-serpihan kenangan yang memenuhi pikiran. Menyimpannya dalam kotak-kotak dengan sangat rapi, ditutup rapat hingga aku akan berpikir dua kali untuk membukanya.

Kau benar, ratusan cangkir kopi hitam dan mungkin ribuan hisapan rokok di bawah gelapnya langit malam akan pelan-pelan menyamarkan ingatan tentangmu, tentang mimpi-mimpi yang pernah kita bicarakan bersama, tentang hari-hari yang sebenarnya tak terlalu banyak terlalui bersamamu. Tentang pikiran-pikiranku yang selalu rumit dan idemu yang selalu sederhana. Tentang sudut pandangmu yang selalu berbeda dengan yang kupunya. Kau bilang aku terlalu sinis dan pesimistis, lalu kubilang kau terlalu pemimpi dan tidak realistis. Waktu itu kau hanya tertawa dan seperti biasa menganggap biasa sebuah perbedaan tanpa berusaha membuatnya sama.

Kau benar, setelah melalui ratusan ribu kubik rinai hujan aku mulai bisa menepis ingatan tentangmu. Aku tak lagi sering teringat tentangmu di kala hujan. Tak lagi sering ingat tentang sore-sore yang kita habiskan di warung kopi sambil menunggu hujan reda. Lalu akhirnya berlari menembus hujan karena rinainya yang tak kunjung henti hingga malam melarut. Tak lagi sering ingat tentang pertanyaan sepelemu yang menanyakan keberadaanku ketika hujan turun. “Kamu masih di proyek. Di sana hujan?” Pesan singkatmu itu masih terus kusimpan sebelum tanpa sengaja aku menghapus semua file di telepon genggamku.

Kau benar, setelah bertahun-tahun aku akhirnya mengerti kenapa kau meninggalkanku dan memilih dia.

Dan kau benar, akan ada seseorang yang sangat mencintai aku. Seseorang yang kemudian akan mengisi hari-hariku dan menjadi ibu dari anakku. Dan pada akhirnya kita pun bahagia. Dengan pasangan kita masing-masing.

Benar katamu, cinta tak harus bersama tapi harus (sama-sama) bahagia. Tapi tentang aku yang akan melupakan semua tentangmu dan menjalani hidup bahagia yang penuh warna, kamu salah. Sepuluh tahun kemudian, kau masih di sini. Di hatiku. Secangkir kopi dan rinai hujan akan semudah itu mengingatkanku padamu.

4d3eec9e11944b1c55496ab18a741366

gambar dari sini

Advertisements

One thought on “Sepuluh Tahun Kemudian…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s