travelling

Kisah Sedih di Imigrasi

Kenapa kok judulnya kaya judul lagu, Yes? Hahaha..nggak ada alasan khusus sih sebenarnya, cuma kayanya kok judulable banget gitu.

So, siapa yang punya kisah tidak menyenangkan -atau marilah kita sebut kisah sedih saja di Imigrasi bandara? Baik di bandara Indonesia atau di negara tujuan? Bagaimana kisahnya? Menyebalkan? Memalukan? Atau beneran menyedihkan?

Kalau saya pribadi untungnya tidak pernah mengalami kisah sedih di Imigrasi. Cuma pernah mengalami kisah yang sedikit menyebalkan dan sebenarnya bikin geli. Ada dua kisah, shay. Yang pertama terjadi di Beijing Capital Airport. Jadi malam itu saya akan kembali ke Indonesia dengan pesawat tengah malam. Jam sepuluh malam udah nyampe bandara. Langsung wrap up dua koper yang gedek-gedek banget, check in dan langsung capcus ke Imigrasi.

20170901_204110

Waktu itu antriannya pwanjang bwanget. Padahal udah jam 10an malam lho. Lewat petugas Imigrasi lancar jaya aja tuh. Nggak ada pertanyaan. Padahal bawaan handcarry saya lumayan banyak lho. You know saya bawa ransel yang lumayan gede, trus tas tentengan yang isinya adalah cemilan dan buah apel gedek-gedek (“dipaksa” bawa sama bos gue, mau ninggalin aja di tengah jalan kok nggak tega ya).

Nah, setelah melewati imigrasi yang stempel-stempel (you know kan what i mean..), tibalah di mesin x-ray. For your information, di Beijing Capital Airport pemeriksaan barang dengan mesin x-ray hanya sekali saja setelah pemeriksaan paspor di imigrasi. Beda banget sama di negara kita yang kayanya ada empat kali ya sebelum masuk pesawat (ampun, pak…bukan protes, pak..bukan…cuma bandingin aja). Nah di sinilah kisah lucu itu berawal. Tentengan rempong yang isinya adalah buah apel dan macem-macem cemilan (bos gue emang perhatian banget) lolos aja tuh. Pas giliran ransel hitam nih…

Petugas x-ray nya can not speak English. Dan dia tetap aja ngomong bahasa Mandarin sama saya yang mukanya udah jelas-jelas bukan muka oriental. Mana gue tahu dia ngomong apa. Tapi dari bahasa tubuhnya sih saya artikan bahwa ada sesuatu di ransel saya. Apa ya? Sayapun membuka ransel sambil berpikir kira-kira apa yang nyangkut ya. Kayanya isinya nggak ada yang aneh-aneh. Segala macam cairan dan benda-benda lain dan bahkan laptop udah saya masukin ke koper gedek yang masuk bagasi.

Dia terus ngomong pakai bahasa Mandarin, dan saya sama sekali nggak ngerti. Trus saya ngeluarin adaptor laptop yang emang kelupaan masuk koper jadi harus masuk ransel. “This one?” saya juga nekad aja ngomong bahasa Inggris. Dia menggeleng. Trus saya nunjukin HP yang emang ada di dalam ransel. Dia menggeleng lagi. Aduh daripada pusing akhirnya saya suruh dia cek sendiri ranselnya dengan bahasa isyarat.

Dan you know guys?? Apa yang menjadi permasalahan di ransel saya? Tau tumbler tupperware yang paling kecil? Yang isinya kalau penuh cuma 100ml kayaknya ya. Nah ada sisa air minum sekitar 30ml an lah di tumber saya itu. Itu yang jadi suspect di ransel saya. Padahal kan peraturannya maximal 100ml ya? Dia ngomong apalah entah saya nggak ngertik. Daripada ribet ngejelasin, saya langsung aja ambil tumbler dari tangannya, buka tutupnya dan langsung minum sampai habis. Setelah itu saya bilang : “Okay now?” Eh dia nyengir sambil kasi jempol. Dan saya langsung babay menuju kereta yang mengantar ke departure hall.

Waktu kejadian, kisah itu nyebelin banget. Tapi sekarang kok jadi lucu ya. Hahahaha..

Kisah kedua di bandara Soekarno Hatta, masih di perjalanan yang sama. Ini memang my hayati lelah bang trip ever. Berangkat dari Beijing jam satu dini hari, tiba di Kuala Lumpur jam berapa ya lupa pokoknya. Dari Kuala Lumpur masih lanjut lagi ke Jakarta, dan dari Jakarta masih lanjut lagi ke Semarang. Di hari yang sama. Bayangkan! Sendirian bawa koper gede-gede yang isinya kemudian dicurigai narkoba di negara tercinta. Ya, ini kisah keduanya.

Setibanya di Jakarta, waktu melewati pemeriksaan paspor sih lancar jaya tanpa pertanyaan. Tapi waktu melewati x-ray beacukai -yang udah dekat pintu keluar tuh.  Semua barang saya disuruh masukin x-ray. Sepertinya saya dicurigain karena bawa barang banyak banget. Dimintain paspor jugak, trus ditanyain “Darimana?” Saya jawab, “Dari Beijing, pak!”, “Ngapain? Sekolah di sana? Kok bawaannya banget banget?”, “Business trip, pak”, “Koper yang ini kami periksa, ya! Tolong dibuka!” ujar si bapak ramah tapi dengan nada perintah. Duh, padahal udah di wrap up mahal-mahal biar kopernya aman. Kan koper saya masih harus masuk bagasi lagi tuh ke Semarang. Tapi daripada malah dicurigai kopernya langsung saya buka. Dan bapaknya kaget waktu liat isinya.

“Ini apa?” muka bapaknya langsung berubah demi melihat beberapa bungkusan plastik 2kg an berisi serbuk berwarna putih di dalam koper saya. Saya mengerti arti warna wajahnya. “Ini krimer, pak. Sample dari pabrik di Beijing. Bukan narkoba. Ini kalau bapak mau cek product spec dan COA nya saya bawa.” Saya menyerahkan dokumen-dokumen yang emang udah disiapkan di koper yang sama. Si bapak membolak-balik lembaran dokumen yang saya berikan. “Kalau bapak mau coba juga boleh. Bisa dicampur kopi!” ujar saya lagi. “Ini samplenya mau dibawa ke mana?” tanyanya lagi. “Ke pabrik di Semarang”. “Oh, ada ya pabrik krimer di Semarang?” suaranya udah mulai santai. “Ada, pak.”

Setelah itu saya dipersilahkan menutup kembali koper saya dan boleh pergi. Untung pesawat ke Semarangnya masih beberapa jam lagi. Kalau mefet kan bisa ketinggalan pesawat.

Udah itu aja kisah saya. Kalau kamu, punya kisah sedih apa di Imigrasi? Cerita dong! 🙂

 

Advertisements

4 thoughts on “Kisah Sedih di Imigrasi

  1. Pengalamannya seru-seru bin jengkelin gitu ya. Apalagi yang di bandara Beijing. HAHAHAHA.
    BELUM pernah keluar negeri, kakak ^^

  2. Pengalamannya seru-seru bin jengkelin ya. Apalagi pas di bandara Beijing. BHAHAHA…
    Gak punya cerita di imigrasi. Aku BELUM pernah keluar negeri, kakak ^^

  3. Hahaha, jadi inget cerita omnya Trinity yang bawa rendang berapa kg, dan gak boleh masuk Paris. Dimakan semua rendangnya, ketimbang mubazir. Ini “untung” air 30 ml doang ya. Tapi tadi aku udah mikir tumblernya bakalan disita *enak aja tuh petugas, untung nggak sampe.

    Imigrasi (hampir) selalu menyisakan cerita ya hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s