Beijing · LaporanKhusus · travelling · Work World

Seperti Kembali ke Masa Lalu (Forbidden City part 2)

Ini adalah lanjutan cerita dari sini

Daku mulai kehabisan kata-kata, jadi di postingan ini daku akan membagi banyak gambar saja. Oiya, mungkin perlu juga daku beritahu. Tiket masuk ke Forbidden City adalah 60 Yuan. Sebenarnya rekan daku ingin kami ditemani oleh seorang guide, agar daku bisa tau banyak tentang kisah Forbidden City. Tapi pada saat itu guide yang bisa berbahasa Inggris sedang on duty semua. Akhirnya kami memakai pemandu otomatis yang memang disewakan di loket dekat pintu masuk. Pemandu otomatis berbentuk seperti MP3 player. Kita bisa memilih bahasa yang kita inginkan, dan saat itu karena daku sudah kangen bangget dengerin orang ngomong Indonesia, daku pilih bahasa Indonesia πŸ™‚

Jadi dari Qianmen Street jalan aja terus ke arah utara. Nanti ketemu gate seperti ini.

beijing10

Nah dari sini tinggal nyebrang, tapi nyebrangnya lewat bawah tanah ya. Langsung deh ketemu Tiananmen Square. Jadi fyi aja ya, pengamanan sebelum masuk Tiananmen Square itu sangat ketat. Kita harus melewati security gate gitu. Tas juga harus dimasukin tuh ke apa sih namanya..pokonya kaya yang di bandara itu deh πŸ˜€

Daku dan rekan daku tidak melakukan apa-apa di Tiananmen Square. Cuma numpang lewat doang menuju Forbidden City. Konon katanya Tiananmen Square ini adalah lapangan terbesar di dunia lho. Dan walaupun winter begini, teteup aja rame surame.

IMG_4612

Dan setelah melewati lokasi ini, tibalah kita di ujung Tiananmen Square. Tuh..gerbang Forbidden City udah keliatan kan? And how can we get there? Tinggal nyebrang aja, cyin. Dan lagi-lagi dari bawah ya, lewat jalur menuju stasiun subway gitu, cyin.

beijing11

Setelah tiba di seberang kita akan melewati jembatan. Forbidden City itu dikelilingi oleh sungai. Ini juga merupakan salah satu bentuk pertahanan istana di masa lalu. Masuk ke Forbidden City, nuansa Tiongkok nya tu langsung kerasa banget. Maksudnya lebih kental gitu. Apalagi melihat bangunan-bangunan kuno yang emang China banget. Daku jadi seperti terlempar ke masa lalu. Entahlah, tiba-tiba aja kaya disergap sebuah rasa yang sulit didefinisikan. Potongan-potongan kisah masa kecil seperti tergambar ulang di memori daku. Masa kecil daku memang daku habiskan bersama sahabat-sahabat yang mayoritas China. Dulu daku tinggal di daerah yang memang mayoritas China. Dan menjalin hubungan yang baik dan harmonis dengan tetangga-tetangga daku. Dan berada di tempat ini, daku jadi…ya….kurasa…daku rindu. Aku rindu masa kecil yang indah itu 😦

Ah, sudahlah..ini daku bagi saja beberapa poto yang berhasil daku jepret ya. Karena sambil jalan, daku dan rekan daku ngobrol terus, daku hanya berhasil mengumpulkan sedikit poto saja.

Gerbangnya gede banget ya, bok?
Gerbangnya gede banget ya, bok?

Trus ini daku berhasil menjepret beberapa bagian interior istana. Kita gak boleh masuk ke dalam ruangannya, jadi cuma bisa moto dari luar.

IMG_4645

forbiddencity5

forbiddencity6

Dan ini beberapa sudut Forbidden City. Mirip dengan tempat-tempat yang daku lihat di film-film kungfu di masa kecil dulu. Mungkin karena itu kali ya..jadi seperti kembali ke masa lalu gitu 😦

forbiddencity7

forbiddencity8

forbiddencity9

Dan ini adalah tempat tinggal guru bahasa Inggris sang Kaisar di masa kekuasaannya dulu. Bagus bangget ya? πŸ™‚

forbiddencity2

Bangunannya bagus-bagus banget, ya? Gimana bikinnya ya tu jaman dulu?

Kami menghabiskan waktu hampir tiga jam di Forbidden City. Padahal kata rekan daku, yang kita jalani tu belum ada setengahnya. Brarti butuh waktu lima atau enam jam dong ya untuk mengunjungi semua tempat yang ada di Forbidden City. Di samping karena udah mulai gempor, Forbidden City juga akan tutup pada jam lima sore. Dan waktu itu sudah hampir jam lima sore. Kami pun memutuskan menuju gerbang keluar. Dan ini dia penampakan gerbang keluarnya

forbiddencity10

Setelah dari Forbidden City, daku dan rekan daku nge-sushi di sebuah restoran Jepang di pusat kota. Setelah itu rekan daku bertanya apakah daku masih ingin kemana gitu. Karena sudah sunggu lelah sangat dakupun memilih pulang saja. Dan the driver pun mengantar daku ke apartemen, sebelum mengantar rekan daku pulang ke rumahnya juga. Jam tujuh lewat banyak, daku sudah tiba di apartemen. Hari yang melelahkan dan sangat menyenangkan.

Gimana…keren kan Forbidden City nya? Pengen ke Forbidden City, nggak? Kamu penyuka sejarah dan yang senang mengenang masa lalu dan mantan, pasti deh suka tempat ini. Duh..nggak nyambung bangget sih lo, Yes? πŸ˜›

Advertisements

4 thoughts on “Seperti Kembali ke Masa Lalu (Forbidden City part 2)

  1. Wuih seru. Jadi pengen ke Forbidden City deh. Aku kok ya inget film-film kerajaan Cina klasik gitu, ya? Bener banget…. pasti serasa ke masa lalu.
    Sebelom ke sana, nyetel film2 kolosal Cina dulu, ah. πŸ˜€

  2. Bangunannya tampak kokoh dgn tiang2 super besar ya. Dan warna merahnya yg khas banget.

    Kayaknya butuh waktu seharian ya kalau mau bener2 kliling sampai selesai, tapi pelan2, ga kesusu gitu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s