INDONESIA · travelling

Naik Taksi di Bali

Nggak tau deh, emang biasanya seperti itu ada emang pas saya aja. Tadinya waktu nyampe Ngurah Rai dan keluar dari pintu kedatangan, udah pede jaya aja kalau bakalan ada taksi yang nongkrong dan kita tinggal naik aja. Seperti di Soekarto Hatta yang tinggal ambil nomor antrian trus ngantri nunggu giliran. But there is no taksi yang nongkrong. Ada juga taksi yang parkir di sebelah sana. Dan nggak keliatan driver nya atau petugasnya. Oh, okay! I expected too much!

Setelah celingak-celinguk bentar akhirnya saya memutuskan untuk pesan taksi lewat Grab. Langsung dapat driver. Tapi….ow ow! Ternyata Grab nggak diperbolehkan ambil penumpang di bandara ya. Tapi udah terlanjur book and si bapaknya langsung telpon. Kita disuruh jalan dikit ke pintu keberangkatan. Jalannya nggak jauh cuma sekitar umm..nggak ada 100meter kayanya ya.

Sampai di pintu keberangkatan kembali celingak-celinguk cari mobil dengan plat nomor yang tertera di aplikasi. But none! Aduh kemana nih bapaknya? Sedetik kemudian bapak driver telpon saya lagi dan memastikan saya yang mana. Ternyata si bapak cuma beberapa meter dari tempat kami berdiri. Lah trus mana mobilnya?

Sama si bapak kita diajak nyebrang ke parkiran, oh…ternyata mobilnya ada di parkiran. Nggak jauh sih. Setelah masuk mobil dan mulai jalan, mulailah pak driver bercerita kenapa kami harus naik di parkiran. Ternyata oh ternyata Grab nggak boleh ambil penumpang di bandara. Kasian juga ya. Cari nafkah harus sembunyi-sembunyi.

Jarak dari Ngurah Rai ke hotel tempat kami menginap nggak terlalu jauh sih. Waktu itu ongkosnya cuma Rp. 54.000,-. Waktu mau pulang, dari hotel ke Ngurah Rai bahkan cuma Rp. 24.000. Nggak tau deh, apa karena datangnya pas hari Minggu ya? Dan pulangnya pas weekday. Jadi tarifnya lebih mahal?

Karena udah ada yang nganterin kita ke tempat-tempat wisata, jadi selama di Bali cuma naik taksi waktu pulang pergi Airport – Hotel dan waktu sore-sore ke Kuta. Pulangnya juga kita pesan Grab dan dapat driver mbak-mbak yang cantik, wangi dan ramah.

Ini suasana Kuta di malam hari, banyak taksi biasa juga. Tapi kabarnya nggak pakai argo ya. Saya paling males soalnya tawar menawar tarif taksi. Jadi ambil yang praktis aja. Pesan Grab. Kebetulan di kawasan Kuta juga nggak ada larangan untuk pesan Grab. Di beberapa tempat wisata ada lho yang pasang poster khusus, larangan untuk semua jenis transportasi online.

20170528_135140

Waktu pesan Grab untuk balik ke hotel, ada yang cancel book…dunno why. Trus akhirnya dapat mbak yang cantik dan ramah tadi. Oiya, kalau pesan Grab di Kuta, sama drivernya disarankan untuk nungguin di depan Zara, di tempat drop penumpang. Β Kalau udah liat mobil dengan plat nomor yang ada di aplikasi langsung masuk mobil aja.

Mudah-mudahan ya segera ada jalan keluar untuk problem taksi online dan taksi biasa ini. Jadi nggak terjadi kucing-kucingan lagi. Tapi kalau saya pribadi sebenarnya lebih nyaman dengan taksi online. Kalau kamu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s