HeartInvestigation

Do Not Judge!

Don’t judge a book by its cover. Please do not judge! Read it!

Saya lupa entah sejak kapan, tapi mungkin karena saya sudah berteman dan bahkan bersahabat dengan banyak sekali manusia dengan latar belakang dan personality yang beragam. Ditambah dengan seringkali terhenyak dengan sesuatu yang jauh banget dari yang saya asumsikan, sayapun mulai jarang menilai orang dari penampilannya.  Continue reading “Do Not Judge!”

Advertisements
HeartInvestigation

Selamanya

Dalam ingatan saya, ibu adalah sosok yang ceria, sederhana, sedikit cerewet, punya banyak sahabat, suka memberi dan penolong. Saya selalu ingat, di akhir minggu rumah kami tak pernah sepi dari kehadiran sahabat dan kerabat yang berkunjung. Kemudian ibu yang sering memasak kue-kue kecil buat mereka, atau menyediakan makanan seperti bubur sumsum atau bubur kacang hijau. Rumah kami selalu ramai dan hangat, penuh dengan canda dan tawa.

Menginjak remaja saya sering membayangkan ibu yang sudah tua dan saya yang sudah menjadi ibu. Lalu kami bersama menikmati secangkir teh dan dan kue-kue kecil  buatan ibu, di suatu sore di taman belakang rumah kami. Dulu saya tidak pernah mempunyai impian memberikan ibu ini atau itu, atau membuatnya bahagia dengan melakukan sesuatu. Karena waktu itu menurut saya ibu sudah cukup bahagia.

Lovely_illustration_of_mother_daughter_reading_wallcoo.com

Sepuluh tahun sudah saya hidup dengan berbekal kenangan. Hidup dengan kasih sayang ibu yang tak lagi nyata dalam wujud yang bisa terlihat mata. Melanjutkan hidup dengan bekal yang pernah saya dapatkan dari ibu. Bekal yang berisikan kenangan-kenangan indah tentang ibu, cinta dan kasih sayangnya, sifat  baik dan sifat (yang saya anggap) buruknya, masakan-masakannya, kebiasaan-kebiasaan khusus yang sering dilakukannya, ah…banyak sekali. Banyak sekali hal tentang ibu yang saya jadikan bekal dalam hidup.

Saya bahkan terkadang lupa kalau ibu sudah di surga. Segala hal tentangnya masih melekat kuat. Kasih sayangnya masih terasa, omelannya kadang masih tenginang di telinga, masakannya masih terasa di lidah. Padahal sudah sepuluh tahun ibu tenang dalam keabadiannya. Betapa cinta dan kasih sayang ibu tiada akhir, melekat sepanjang masa.

Saya tidak akan bercerita tentang kesedihan saya kehilangan ibu. Tanpa saya ceritakan, semua orang pasti tahu sakit dan perihnya. Kehilangan orang yang sangat dicintai sekaligus orang yang menjadi sandaran jiwa tidaklah mudah. Dibutuhkan kekuatan dan kebesaran hati untuk menerima dan menjalaninya.

Saya menepis duka dengan kenangan, cinta dan kasih sayang yang sudah ibu berikan. Bersyukur atas hari-hari dan kenangan yang saya peroleh darinya. Dan..oke…tidak semudah itu! Memang tidak semudah itu. Tapi hidup harus berlanjut. Kita tidak boleh tenggelam dalam kesedihan. Tapi kalau sedang rindu masih boleh kok menangis diam-diam 🙂

Pada akhirnya saya harus menyadari dan menerima, bahwa ibu tak akan pernah menjadi tua. Secangkir teh dan kue-kue kecil buatan ibu tak mungkin terwujud kami nikmati pada suatu sore di taman belakang rumah kami. Tapi saya yakin dan percaya, di surga ibu lebih bahagia menikmati secangkir teh dan kue-kue kecil buatan Tuhan. Dan meskipun tak lagi tertangkap mata dan terengkuh raga, cinta dan kasih sayang ibu masih melekat dan menyertai hari-hari saya.

Ibu tak pernah pergi, dia selalu ada lekat di hati saya, selamanya.

Selamat hari ibu, untuk semua perempuan di dunia dan di surga. We love you 🙂

BannerHariIbuKEB_zps8670007d

HeartInvestigation

Jadi, apakah kau sudah siap jika ibumu pergi meninggalkanmu?

Terlepas dari keberadaan seseorang dalam sebuah ikatan keluarga, saya pikir manusia adalah individu yang diciptakan dengan tujuan tertentu. Setiap manusia adalah dirinya sendiri, diciptakan Tuhan melalui suatu proses yang terbilang cukup panjang hingga akhirnya hidup selama sembilan bulan dalam rahim manusia yang disebut perempuan, kemudian lahir dan utuh menjadi manusia baru yang ikut bernafas di bumi yang sudah dipenuhi manusia dewasa. Continue reading “Jadi, apakah kau sudah siap jika ibumu pergi meninggalkanmu?”

HeartInvestigation

Kau adalah Pahlawanku

Guru adalah sosok penting dalam hidup setiap orang. Apalah jadinya kita tanpa guru. Mereka adalah orangtua kedua kita, orang yang telah berjasa mendidik dan membimbing kita. Kita yang tidak tahu apa-apa, karena jasa para guru kita akan tumbuh menjadi pribadi yang siap menyongsong masa depan. Berbekal ilmu dan ketrampilan yang kita dapatkan dari sang guru.

Adalah seorang perempuan paruh baya berkulit hitam manis dengan rambut panjang yang selalu ditata rapi menyerupai sanggul kecil. Membingkai wajah keibuan yang selalu berhias senyum dan tatapan mata yang lembut dan menyejukkan. Penampilannya sangat sederhana, dengan tutur kata yang lembut namun lantang. Beliau adalah guruku, sosok menyenangkan yang membuatku jatuh cinta dengan pelajaran Bahasa Inggris. Dengannya, melewati tiga kali empatpuluh menit dalam ruangan kelas seadanya dan kursi-kursi tua yang sudah selayaknya ‘dipensiunkan’ terasa seperti di tempat yang paling menyenangkan. Gedung sekolah kami waktu itu memang sangat jauh dari kesan megah. Hanya bangunan yang sudah tua dan perlengkapannya yang tak kalah tua. Tapi untuk sebuah SMP Negeri di daerah, buat kami itu sudah lebih dari cukup.

Wanita sederhana itu memang sangat pandai memikat hati murid-muridnya, membagikan ilmu yang dimilikinya seperti berbagi kebahagiaan. Sehingga tak ada sedikitpun beban bagi murid-muridnya. Semua orang mengagumi dan menghormatinya. Dan tentu saja menyayanginya. Dan atas permintaannya, kami memanggilnya “Ma’am”.

Pelajaran bahasa Inggris adalah pelajaran baru bagi saya waktu itu. Pada masa itu, bahasa Inggris baru diberikan pada murid kelas satu SMP. Kurikulum pendidikan SD tidak mengharuskan SD Negeri untuk memberikan pelajaran Bahasa Inggris. Ada sedikit kekhawatiran apakah nanti saya bisa mengikuti pelajaran bahasa asing itu. Apalagi dengar-dengar dari beberapa orang teman yang sudah SMP katanya pelajaran bahasa Inggris itu susah dan menakutkan. Apalagi kalau dapat guru yang galak. Tapi saya simpan kekhawatiran saya.

Dan tibalah hari pertama pelajaran bahasa Inggris. Ibu Lady Situmorang – yang kemudian kami panggil Ma’am memasuki ruangan kelas dengan wajah lembut dan senyumnya yang menyejukkan. Kebetulan waktu itu Ma’am juga menjadi wali kelas saya. Hari pertama yang menyenangkan. Ma’am mengajar dengan cara yang tidak membosankan. Kami diajak bernyanyi dalam bahasa Inggris,  menyebutkan setiap benda di  kelas dengan bahasa Inggris. “this a book, this a chair, this is a window and this is a blackboard” , begitu lagu yang berulang-ulang kami nyanyikan waktu itu. Ma’am akan menunjuk suatu benda, dan kami harus menyanyikannya dengan bahasa Inggris. Bagi remaja kelas satu SMP yang baru saja mengenal bahasa Inggris. Tentu saja hal itu sangat menyenangkan.

Buat saya Ma’am Lady menjadi guru yang sangat istimewa, karena saya jadi sangat tertarik dengan bahasa Inggris. Ma’am Lady mengajar dengan penuh cinta, sangat sabar dan tak pernah marah. Karena kesabaranlah kami semakin hormat padanya. Di setiap akhir pelajaran Ma’am Lady selalu memberikan kami semacam tes. Bagi siswa yang jawabannya benar semua Ma’am akan menuliskan “Thank’s a lot” dan bagi yang masih ada yang salah Ma’am memberikan tulisan “Thanks”. Bahagia sekali rasanya jika melihat “Thank’s a lot” di kertas jawaban saya. Dan itu memicu saya untuk belajar lebih giat lagi.

Meskipun setelah naik kelas dua dan kelas tiga saya tidak lagi diajar oleh Ma’am Lady, saya tetap menyukai pelajaran Bahasa Inggris. Ma’am Lady telah melekatkan cinta saya terhadap pelajaran –yang bagi sebagian orang sangat susah ini dengan erat di hati saya. Ma’am Lady adalah pahlawan bagi saya. Beliau yang telah berjasa mengenalkan dan membuat saya jatuh cinta dengan pelajaran Bahasa Inggris.

Seandainya semua guru di tanah air tercinta ini seperti Ma’am Lady, pasti tidak ada siswa yang malas belajar dan atau menganggap pelajaran sebagai beban yang memberatkan. Para siswa pasti akan bersemangat dan mencintai guru dan pelajaran mereka. Dan hal ini tentu saja secara tidak langsung akan meningkatkan kwalitas sumber daya manusia negeri kita.

Guru adalah asset utama dalam dunia pendidikan. Apalah artinya gedung sekolah yang megah dan peralatan penunjang yang sangat lengkap bila tanpa guru. Karena itu sudah seharusnya pemerintah perduli dengan kwalitas guru dan lebih memperhatikan kesejahteraan mereka. Khususnya untuk guru-guru yang ada di daerah tertinggal atau di daerah pedalaman. Guru tidak hanya pintar dan kaya ilmu, tapi juga harus memiliki kepribadian yang penuh cinta kasih, dedikasi, sabar namun tetap berwibawa.  Menjadi seorang guru bukan hanya sebagai profesi, tapi juga mengemban tugas mulia untuk mendidik tunas-tunas bangsa yang nantinya akan meneruskan kelangsungan tanah air tercinta ini. Kepada mereka dititipkan anak-anak bangsa untuk dididik dan dibekali ilmu dan ketrampilan. Yang tadinya tidak tahu apa-apa, menjadi tahu. Yang tadinya “buta” menjadi bisa melihat segalanya. Maka tak berlebihan jika kita memberikan gelar “Pahlawan Tanpa Jasa” pada guru-guru di negeri kita ini.

Kabar dari seorang kawan sore tadi betul-betul mengejutkan saya. Ma’am Lady telah wafat beberapa tahun yang lalu. Tak ada lagi perempuan sederhana dengan senyum tulusnya yang menyejukkan. Betapa saya ingin mengucapkan terimakasih pada beliau, tapi ternyata saya terlambat. Jarak yang sangat jauh dan kesibukan yang membelenggu terkadang membuat kita lupa dan terlena dengan waktu. Sebelum meninggal Ma’am Lady masih menjadi guru di SMP Negeri 1 Sidikalang –sebuah kota kecil yang berjarak tempuh 4 jam dari Medan (ibukota Sumatera Utara), dan saya jauh di perantauan. Di sebuah kota kecil di lereng gunung Merbabu.

Tenanglah dalam keabadianmu, Ma’am. Semua jasa dan baktimu tak akan pernah terkikis oleh masa. Kau adalah pahlawan dalam hidupku.

HeartInvestigation · travelling

serpihan sejarah yang berpendar di belantara waktu

Kenangan adalah serpihan sejarah yang berpendar di belantara waktu dan kerap menghadirkan rindu.

Dimanakah serpihan-serpihan sejarah hidupmu bisa kembali kaujumpai?
Apakah di sekitar tempat dimana kini kau berada – yang bisa kapan saja kaulewati atau di tempat yang terpisah jarak bahkan benua yang tak mungkin bisa kau tempuh sesukamu di kala kau ingin?
Ingin yang kemudian tak tersampaikan, lalu menjelma menjadi rindu yang menyesakkan dada atau bahkan membuatmu menangis?

Aku meninggalkan beberapa serpihan sejarah hidupku di beberapa kota yang tak mungkin kutempuh dalam puluhan atau bahkan ratusan langkah.
Dan kini aku merindukannya.
Ahh…andai saja aku bisa terbang 😦

HeartInvestigation

We love you, mom!

Adik bungsu saya-Kindy, masih berusia 8 tahun ketika Tuhan memanggil ibu saya kembali kepangkuanNya. Ibu saya hijrah ke surga di usianya yang keempatpuluh sekian. Masih terbilang muda, dan kalau saya boleh meminta saya pasti akan meminta Tuhan untuk mengundurkan jadwal kepindahan Ibu saya ke surga. Mungkin lebih baik kalau tigapuluh atau tigapuluh sembilan tahun lagi kan? Saat kami sudah bisa melengkapi kebahagiaan ibu saya dengan kehadiran Continue reading “We love you, mom!”

HeartInvestigation

..tak pernah pergi..

…….

Sore yang sangat biasa, di luar gerimis Januari turun dengan malas. Sesekali berhenti, lalu gerimis lagi, berhenti, lalu gerimis lagi. Di rumah hanya ada aku dan bibiku. Kakek dan nenekku sedang berlibur ke kota kelahiran kakek, setelah sebelumnya pulang dari Pekanbaru mengunjungi anaknya –yang adalah pamanku. Akhir-akhir ini kakek dan nenek memang jarang sekali di rumah. Waktu mereka habis untuk mengunjungi anak-anaknya Continue reading “..tak pernah pergi..”